Menunggu dan Ditunggu



Hujan deras di luar sana membuatku mengingat sesuatu yang telah lama berlalu. Sekisah masa lalu yang tak akan pernah aku melupakannya. Kisahnya sederhana, saat umurku masih sepuluh tahun aku sering dipanggil gadis kecil yang cantik. Ibu dan Ayah selalu menilaiku begitu. Ibu dan Ayah sangat pandai membuat pipiku berubah menjadi merah tomat.
Kini, usiaku sudah tak seperti dulu, memasuki umur 20 tahun. 20 tahun, sebuah bilangan umur yang dialami banyak perempuan sepertiku. 20 tahun, sebuah bilangan umur yang menyimpan perasaan rindu pada seseorang yang akan menjemputnya. Menjemput untuk menjadi bidadari dunia dan akhiratnya.
Bayangan itu hilang ketika Ibu mendekatiku.
Kamu sudah bisa menentukan, Nak. Ibu akan mengajarkanmu satu hal,
Apa itu, Bu?
Jadilah wanita yang ditunggu, bukan wanita yang menunggu,
Maksudnya, Bu?
Kelak akan ada seseorang yang datang untuk mengambilmu dari Ayah dan Ibu. Ketika hal itu terjadi, tentu saja Ibu akan mengikhlaskan. Tapi Ibu tak mau kamu menjadi wanita yang menunggu. Ibu ingin agar kamu menjadi wanita yang ditunggu oleh seseorang yang akan meminta izin kepada Ayah dan Ibu,
Kau tahu? Ibu meneruskan sembari mengusap kelapaku. Hakikat wanita itu ditunggu, bukan menunggu. Biarkanlah para laki-laki yang menunggumu atau tidak sama sekali. Karena hakikat laki-laki memang suka menunggu. Mungkin diluar sana, ada seorang laki-laki yang telah mempersiapkan segalanya untuk mengambilmu dari Ayah dan Ibu. Dan sekarang, laki-laki itu sedang menunggu kesempatan dan waktu yang tepat,
Biarkanlah laki-laki itu menunggu. Dan kamu tak perlu menunggunya, sebab Ibu ingin agar kau menjadi seorang wanita yang ditunggu.
Aku berpikir keras mendengarkan penjelasan Ibu. Ibu benar-benar memberikanku pelajaran yang rumit hari ini. Menunggu, ditunggu dan apapun itu. Aku belum bisa menerjemahkannya dalam kata-kata.
Aku sayang Ibu Hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Terputuslah percakapan ini. Menjadi hening. Terdiam lama dalam pangkuan Ibu.

Merindukan Dia



Merindukan dia. Seperti kerinduan rintik hujan yang jatuh cinta kepada bumi. Setiap tetesnya menyuburkan. Setiap tetesnya menyuburkan tanah yang gersang.
Merindukan dia. Seperti kerinduan bintang yang jatuh cinta kepada bulan. Setiap terangnya bintang mencahayakan. Setiap pancaran cahaya bintang membuat yang dicinta menjadi lebih benderang.
Merindukan dia. Seperti kerinduan malam yang jatuh cinta kepada fajar. Setiap penantian malam selalu menggetarkan. Setiap pertemuan keduanya melahirkan keindahan.
Merindukan dia. Seperti kerinduan langkah yang jatuh cinta kepada perjalanan. Seperti ingin mengungkit kenangan. Seperti indahnya langkah dalam setiap perjalanan.
Merindukan dia. Seperti kerinduan pelangi yang jatuh cinta kepada warna. Setiap deretan warna memberikan keindahan. Setiap deretan warna membawa kebahagiaan.
Merindukan dia. Seperti kerinduan kejora yang jatuh cinta kepada pagi. Setiap hari berharap bisa menemukan pagi. Setiap hari selalu mengharapkan bertemu pagi.
Merindukan dia. Seperti kerinduan angin yang jatuh cinta kepada udara. Setiap hembusannya membuat kesejukan. Setiap pertemuan keduanya mendatangkan kebahagiaan.
Merindukan dia. Seperti kerinduan akar yang jatuh cinta kepada daun. Setiap kerinduan membawa kekuatan. Setiap kerinduan mempengaruhi ikatan yang saling menguatkan. Meski tak bisa bertemu tetap saling memperdulikan, bukan?
Merindukan dia yang masih dirahasiakan-Nya.

Tentang Impian dan Orang Tua



Aku tidak pernah bercita-cita untuk kuliah selepas lulus SMA. Keluarga lebih menyarankan aku untuk bekerja saja. Kondisi ekonomi yang pas-pas-an membuat alur kehidupan keluarga berbeda. Sudah menjadi tradisi keluarga bahwa seorang anak lelaki yang lulus dari sekolah harus langsung bekerja, mencari uang, dan membantu ekonomi keluarga.
Tahun 2012 saya lulus dari sekolah SMK. Tak terbayang kebahagiaan keluarga saat itu. Mereka telah lama menanti agar saya bisa segera bekerja. Rona senyum dan kegembiraan pun terpancar jernih dari wajah kedua orang tua, Ibu dan Bapak. Memang itulah yang mereka tunggu.
Bapak hanya seorang pedagang keliling yang pendapatannya pas-pasan. Cukup, kadang tak mencukupi. Sedangkan ibu hanyalah seorang Ibu rumah tangga yang terkadang membantu berjualan gorengan, nasi uduk dan mie goreng di sekolah SD kampung.
Aku masih punya kakak dan adik. Kedua kakak ku sudah berkeluarga dan sibuk dengan urusan keluarganya. Dan kakak mewariskan tradisi ini sampai kepada pundakku. Dua adik laki-laki dan dua adik perempuan yang masih sekolah menunggu uluran tanganku. Berharap, aku akan membantu mereka agar adik-adik tetap lanjut sekolah. Harapan mereka, ada di atas pundakku. Sebagai seorang laki-laki dikeluarga, aku pun setuju bahwa aku harus bekerja.
Masih terngiang-ngiang sampai saat ini ditelinga perkataan Ibu saat itu, Dan kata Ibu sembari menatapku. Ibu doakan Kamu sukses ya. Biar bisa bantu adik-adik yang masih dibawah. Dan aku pun mengangguk pelan.
Beberapa hari kemudian aku pun mengumpulkan berkas-berkas lamaran pekerjaan. Aku mencari informasi-informasi tentang lowongan di koran, lewat teman maupun saudara. Dan Alhamdulillah, Allah memudahkan ikhtiar saya dalam niat membantu orang tua. Dalam waktu singkat aku sudah diterima di perusahaan swasta di kota Bandung.


Aku bekerja penuh keyakinan. Ujung mataku boleh saja memandang ke depan, tapi isinya adalah bayangan keluarga dan adik-adik yang menungguku dirumah. Menunggu senyum dariku yang ketika awal bulan berganti. Ah disinilah saya merasakan benar-benar menjadi seorang kakak. Lalu, selama ini aku kemana? Entahlah.
Ditengah perjalanan, aku dikejutkan dengan berita yang akau dapat dari Om saat itu. Ada tawaran beasiswa dari pemerintah untuk kuliah gratis asal syaratnya dipenuhi. Aku masih ingat, saat itu Om membacakan sebuah ayat Al-Quran yang sampai saat ini saya ingat.
Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.(Q.S. Ar-Rahman [55] : 33)
Om menyemangatiku untuk berani mengambil keputusan, berani mencoba dan berani keluar dari zona nyaman. Dalam sekejab, Om berhasil membuatku yakin untuk bisa kuliah. Apalagi aku sangat yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya. Rezeki kan ada dimana-mana, pikirku saat itu. Betul kan?
Aku membulatkan tekad, yakin bahwa aku bisa meraih penghasilan lebih ketika kuliah nanti. Kan bisa saja Allah memberikan rezeki yang tak terduga. Rezeki tersebar dimana-mana kok. Kata Om, Jangan pernah takut tidak mendapat rezeki, manusia itu sudah ditentukan rezekinya. Jadi, dimanapun berada, pasti diberikan rezekinya. Nggak akan tertukar rezekinya. Begitu Om menyemangatiku agar selangkah lebih maju.
Satu hari berikutnya, aku bercerita kepada Ibu tentang keinginan untuk kuliah. Merantau ke kota lain. Belajar dan mencari titik kehidupan yang baru. Aku izin pada Ibu.
Ibu menatapku dengan pandangan haru, kukira Ibu akan menyetujui langkahku, ternyata tidak. Sebuah kata-kata lembut namun tajam terucap dari lisan mulia. Menyadarkanku dari lamunan panjang.
Dan kalau kamu tinggal di luar sana, biaya dari mana? Nanti tinggal dimana? Siapa yang akan bantu adik-adik?
Ah aku urung untuk meneruskan keinginanku untuk kuliah. Stop, tak tega rasanya.
Sejak saat itu, sejak melihat tatapan Ibu, aku berusaha menghindari komunikasi dengan Om. Takut-takut kalau Om berhasil menyuntik semangatnya kepadaku lagi. Dan benar, selang beberapa hari aku tak bertatap lagi dengan Om, demi menjaga perasaan Ibu.
Perasaan lega terputus lagi. Ternyata Bapak sering berkomunikasi dengan Om. Bapak memberitahuku tentang tawaran dari Om. Bapak sih setuju-setuju saja. Toh, itu semua demi kebaikan ku. Akhirnya, pada suatu sore, saat semua berkumpul di ruang tengah, Bapak menceritakan hasil obrolannya dengan Om dan bapak setuju kalau aku merantau ke kota lain.
Diusiaku yang ke 18 tahun, aku dipaksa harus merantau oleh Bapak. Kadang, aku suka mendengar perdebatan Ibu dan Bapak soal permasalahanku. Bapak setuju, sedangkan Ibu agak menolak. Bukan, bukan karena Ibu tak menyetujui, tapi Ibu khawatir kepadaku tentang nasib diriku di kota yang jauh dengan rumah. Dan Bapak pun benar, ingin agar aku bertambah dewasa dan mandiri. Keduanya benar dan mempunyai alasan yang kuat.
Oh malangnya diriku. Aku menjadi sebab pertengkaran mereka. Ingin sekali kukatakan, Sudah, sudah jangan bertengkar! kau akan menurut kepada keputusan yang paling baik. Tapi aku urungkan. Bodohnya diriku saat itu, masih mental kekanak-kanakan. Tak punya nyali untuk menentukan, tak berani ambil keputusan.
Sejak saat itu aku tak banyak bicara. Aku lebih baik diam saja. Tak membicarakan satu hal apapun terkait keinginanku untuk kuliah di luar kota. Hanya saja, Allah berkehandak lain. Ibu menghampiriku, ia menatapku dengan lamat-lamat penuh arti cinta.
Dan  kalau kamu mau kuliah, sekarang Ibu ridho. Ibu yakin, suatu saat kamu akan sukses.
Mendengar kata-kata itu hatiku berbunga. Seperti ada angin segar yang menyejukan hati yang gersang. Menyemai lembut hingga ke relung sanubari. Maka detik itu pula aku mantap mengatakan, Bismillah, aku akan berusaha meraih beasiswa itu.
Aku mengadukan keputusan ini kepada Om. Dan dengan senang hati, Om mengurus semua keperluanku untuk mendapatkan beasiswa. Seperti ijazah, surat keterangan lulus, sertifikat prestasi sampai-sampai aku pun mengumpulkan hasil rata-rata nilai rapotku.
Bimillah, aku mantap menatap masa depan, tanah baru, keluarga baru dan sahabat baru. Tepat pada bulan Agustus aku meluncur ke Bandung untuk melengkapi persyaratan penerimaan beasiswa bersama Om. Setelah persyaratan cukup, tinggal menunggu waktu tes tulis dan wawancara. Aku pun kembali ke rumah dengan perasaan lega. Restu Bapak dan Ibu sudah kudapatkan. Impian ku untuk kuliah sebentar lagi akan terwujud.
Aku pulang dari Bandung dengan perasaan berbunga dan lega. Aku tidak merasa khawatir tinggal dimana dan dengan siapa. Aku hanya yakin, Allah akan menempatkanku ditempat yang diridhoi-Nya. Bagiku, dimanapun tempatnya, asal Allah ridho, maka aku pun ridho. Begitu pikirku.
Sehari setelah kepulangan, aku dikejutkan dengan kata-kata kakak. Rupanya kakak nggakbegitu setuju aku kuliah di Bandung. Kakak lebih memintaku untuk bekerja saja sembari kuliah. Aku ingat, bagaimana kakak memarahiku saat itu, KALAU TETEP KE BANDUNG, JANGAN TANYA KE KAKAK KALAU ADA APA-APA!!! EMANGNYA KELUARGA KITA BANYAK DUIT??? UANG DARI MANA KALAU KAMU KULIAH!!!
Ah menetes sudah air mata hati dan jiwaku. Semangatku luntur kembali. Seolah-olah aku dibawa melayang untuk memikirkan kembali bagaimana kehidupan luar tanpa dekat dengan orang tua? Uang dari mana? Akan tinggal dimana?
Sempurna sudah semangat yang telah aku tanam selama ini
Ujian tulis dan wawancara itu tetap berlangsung meski semangatku tak seperti dulu. Tak seperti pertama kali aku datang ke kampus ini. Semangat tinggi yang kubawa ke kampus ini pertama kali, kini hilang dibawa alunan angin yang melambai syahdu.
Aku ujian tertulis dengan seadanya, tidak dengan semangat. Bukan, bukan karena aku bodoh. Tapi karena aku berharap aku tidak diterima dikampus ini. Jadi, aku tetap melanjutkan sesuatu yang telah aku jalani, tapi aku berusaha menghindarinya.
Tes wawancara pun kujawab dengan seadanya. Datar-datar saja. Mudah-mudahan dengan begitu aku tidak diterima. Tidak ada semangat seperti dulu lagi saat wawancara. Aku pasrah dengan keadaan. Aku pasrah dengan ke Maha Adilan Allah.
Aku pulang membawa sejuta cerita dalam hidup. Antara aku harus menilai diri payah tak bisa memperjuangkan mimpi- atau memang aku mengalah dengan kemauan keluarga. Entahlah saat itu aku hanya pasrah.
Aku menceritakan kepada keluarga tentang apa yang aku lakukan. Tentang ketidak semangatan ku mengerjakan ujian dan tes wawancara. Aku bilang kepada Ibu, Semoga saja kamu nggakditerima, Bu. Dan ibu hanya terdiam.
Selang beberapa hari kemudian. Saya ingat, satu bulan kemudian, tepatnya bulan September, pengumuman kelulusan pun diumumkan. Betapa kagetnya ketika nama saya menjadi daftar orang-orang yang diterima menjadi salah satu mahasiswa penerima beasiswa unggulan. Allah batinku. Mungkinkah ini skenario yang terbaik dari-Mu?
Aku terisak di pangkuan Ibu, antara menangis dan bingung. Antara dua pilihan yang berat : kesempatan dan ketidak restuan. Pilih yang mana? Sebagai seorang anak aku hanya bisa menyerahkan pilihan ini kepada Ibu dan Bapak. Jika mereka merestui, dengan bismillahaku berangkat. Jika tidak, maka aku akan menolak. Aku sudah tidak perduli dengan nasehat kakak, yang aku harapkan saat itu adalah restu Ibu dan Bapak.
Aku mencoba berbicara kepada Ibu. Aku ingat, selepas shalat aku menghampiri Ibu. Duduk didepannya sembari menatap wajahnya yang indah. Bu, menurut Ibu bagaimana? kamu menjadi salah satu orang yang diterima beasiswa unggulan. Mohon pilihannya, Bu, apa kamu batalkan atau terima?
Aku ingat, saat itu Ibu terharu sekaligus sedih. InsyaAllah Ibu setuju, Dan. Kata Ibu. Sebuah kata yang sangat aku syukuri saat itu. Tapi  Ibu melanjutkan. Ahh  jika ada kata tapi berarti Nanti kamu tinggal dimana? Sama siapa? aku menagis saat itu. Ternyata Ibu memikirkan keadaanku nanti. Saat itu aku jadi belajar, bahwa orang yang pertama kali ingin kubahagiakan adalah Ibu.
Bapak pun menyetujui. Hanya saja, cara bicara Bapak tak seperti Ibu. Bapak langsung mengiyakan saja dengan cepat. Tanpa pikir panjang langsung bilang yes. Maka dengan bismillah, aku bertekad untuk tetap melanjutkan study meski kakak tidak setuju.
Dan pada saat 17 September 2012, saya resmi menjadi Mahasiswa di sebuah perguruan tinggi Bandung. Alhamdulillah, wasyukrulillah, ala nimatillah.

Jadi, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?

Namamu


Siapa dia? salah seorang bertanya kepadaku.
Teman, dia temanku ... jawabku sembari tersenyum.
Teman apa teman? Bukan teman juga nggak apa-apa,
Saat itu kau pun tersenyum. Aku berusaha menjelaskan sebaik mungkin siapa dirimu. Siapa dirimu di mataku. Dan mereka tetap tak percaya sembari tertawa.
Saat dipertemuan komunitas aku tertegun ketika dia jadi datang. Tentu saja, lagi-lagi hatiku berguncang. Aku putuskan untuk tidak ikut komunitas itu karena ingin menjaga perasaanku (yang sebenarnya jatuh cinta padamu). Aku tak jadi ke pertemuan komunitas itu.
Handphone berdering. Sebuah sms masuk darimu.
Lagi dimana?
Bergetar hatiku. Dikampus, kamu sms saja orang yang sudah kumpul disana.
Aku nggak kenal semuanya,
Ah, tiba-tiba rasa ibaku muncul begitu saja. gerimis pun datang seperti mengetahui isi hatiku. Dengan hati yang penuh iba, aku mengendarai motor ditengah-tengah gerimis. Ada rasa ingin membantunya. Setibanya disana (dengan pakaian yang cukup basah) kau sudah duduk di tengah-tengah komunitas itu. Lega sudah hati ini. kau menatapku dan aku menatapmu. Seketika aku tersenyum. Berharap waktu berjalan lama.
***
Atas nama cinta, aku berdosa. Atas nama cinta, aku telah jatuh dalam nista. Atas nama cinta, aku hanyalah manusia biasa yang penuh dengan salah dan khilaf. Begitulah kisah pertemuan hingga akhirnya aku dan dia memutuskan untuk saling berpisah. Memutuskan untuk saling menjaga, saling tak membiarkan cinta ternoda.
Semenjak itu, tak ada lagi dalam hidupku bayanganmu. Namun seiiring dengan hilangnya dirimu tak sedetik pun aku kehilangan namamu. Inilah awal sebuah pertemuan dan perpisahan. Siap merasakan jatuh cinta, maka harus siap mengembalikan cinta kepada pemiliknya. Yakni Allah azza wajalla.

***

Yang Terkenang

Sering kali pertemuan pertama terkesan indah. Memoar ingatan yang sebentar itu rasanya sulit dilupakan. Seorang pemuda duduk bersama teman-temannya. Menatap kedepan seorang tukang bakso tahu yang sedang jualan di pelataran masjid.
Masjid itu tak lain dekat dengan sekolah SMA. Ada yang sibuk memerhatikan, ada yang melirik, saling lirik dan saling memendam rasa. Namanya juga remaja, ah bagitu sifat murni yang dirasakannya.
Pemuda itu tertunduk malu saat sekelompok akhwat berjilbab datang membeli baso tahu juga. Hati pemuda itu bergetar. Menahan diri dari lama-lama memandang akhwat berjilbab.
Hey, seorang temannya menepuk pundak pemuda itu.
Pemuda itu mengalihkan wajah. Apa, ada apa?
Akhwat yang sering kuceritakan itu memakai kerudung biru ... mata temannya menuju arah seorang akhwat berjilbab biru. Sungguuh anggun. Upsss. Keceplosan. Aku kembali fokus menyantap baso tahu.
Biru, batin pemuda itu.
Seiring berjalannya waktu, pemuda itu pun suka berkomunikasi dengannya. Sejak itu pula, pemuda itu tak langsung memanggil namanya. Bukan karena tidak kenal, tapi memiliki bahasa lain. Pemuda itu memanggil akhwat itu dengan sebutan Gadis berkerung biru. Sesekali pemuda itu sempat tak bisa bicara apa-apa saat dikala akhwat itu bertanya, Kenapa memanggil kerudung biru?
Pemuda itu gelagapan.
Karena pertemuan pertama itu engkau sedang memakai kerudung biru,
Percakapan via handphone itu terputus begitu saja. meninggalkan sejuta tanda tanya yang sangat besar di benak pemuda itu. Sejak saat itu, komunikasi berjalan lambat, selambat jarum jam berdetak. Detik terasa seperti menit. Dan semakin jauh, tertinggal dan kembali jauh. Dan pemuda itu berhenti mengucapkan Gadis berkrudung biru lagi. Berakhir kenangan itu. Lepas menjauh.
***
Lepas dari masa itu membuatku banyak belajar arti sebuah harapan. Harapan itu ada, sudah menjadi sifat dasar manusia. Namun, terlalu menikmatinya pun menjadi sebuah rasa sakit. Memang benar, terlalu mengharapkan bukanlah sebuah jalan yang baik. dan terlalu memikirkan pun belum tentu dia memikirkan. Hidup itu pilihan, bukan?
Saya cemburu pada seseorang perempuan yang cantik dan shalehah. Ia dikenal banyak laki-laki, tapi ia tak terlalu banyak menanggapi. Rumahnya pun sering dikunjungi laki-laki, tentu saja maksudnya membicarakan kepada orang tuanya, bukan kepada perempuan shalehah itu. Namun, ia tak banyak juga menanggapi.
Saat sepi, malam pun datang. Ia berwudhu, memakai mukena putihnya lalu berdoa, Ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang yang sering menyebut namaku dalam doanya. Agar aku tahu ketika dia mencintai dan merindukanku, ia pun ingat dengan-Mu.
Sekarang tiba giliranku untuk berdoa, Ya Allah, pertemukan aku dengan orang yang mampu menerimaku dalam keadaan apapun, menerima segala kekurangannya dengan keshalehannya. Menerima aku dengan cara membelaku saat orang lain menjatuhiku. Dan pertemukan aku dengan orang yang menyebutku dalam doanya. Seperti perempuan shalehah itu.

***

Lapak Tilas Bercahaya


Suatu kali aku melihat masjid. Aku cemburu. Sebab, ia selalu berpikir bahwa banyak yang akan mendekat kepadanya, walaupun hanya sekedar lewat saja. Ah, masjid, kau begitu khusnudzon, menunggu sabar seseorang datang untuk masuk ke dalam ruanganmu. Lalu engkau begitu rindu kepada manusia untuk bersujud di tempatmu. Begitu rindu.
Suatu kali aku melihat masjid. Betapa ikhlas kau menyejukan manusia. Sebelum masuk ke dalamnya, kau sediakan air yang begitu sejuk, menusuk qalbu, dan menyegarkan tubuh-tubuh kering ini. Kau begitu baik.
Meski betapa banyak yang sadar bahwa kami bukanlah orang baik, tetap saja kau berbaik hati untuk menerima kedatangan kami. ah masjid, jadikanlah kami selalu tamu yang engkau sambut dengan hangat.
Melihat cahaya diatasnya. Mengenang aku sujud di dalamnya. Betapa indahnya. Tulisan ini saya buat saat pandangan saya berada tepat di depan Masjid. Ia berdiri gagah dan bercahaya. Sempat saya berpikir tentang berjuta-juta kebaikan yang telah masjid berikan. Meski ia hanyalah sebuah bangunan.
Tunggu, kau tahu salah satu pemuda yang dijamin masuk surga? Ya, adalah pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid. Dan kau tahu siapa orang yang selalu mendapat senyuman bidadari-bidadari surga? Ya, adalah orang yang membersihkan masjid walaupun satu butir debu.
Saat di dalamnya, ada yang menghafal ayat-ayat Allah, ada yang berdzikir, ada yang shalat dengan khusyuk, dan ada yang memandang saja (seperti saya ini J). Siapapun percaya, bahwa setiap orang yang sedang berada di dalamnya pasti akan merasakan rasa nikmat, sejuk dan tenang. Entah mengapa?
Apa sebabnya?
Sebab berada di dalamnya seperti ada gaya yang mengajak kepada kebaikan. Ada gaya yang memaksa menjauhi kemaksiatan. Ada gaya yang menolak kemungkaran. Kita seperti diajak untuk terus berbuat baik, berpikir positif dan mengagungkan Allah. Tak seperti kebanyakan tempat lainnya, Masjid menjadi salah satu tempat berkumpulnya para penyeru kebaikan, para pejuang dakwah islam, para pengajar ilmu islam. semuanya berkumpul pada satu titik.
Oh ya, berbicara tentang surga, semua pasti menginginkannya. Tak usah repot mencarinya. Toh sudah ada di depan mata. Terpaut saja hatimu kepada masjid. Terpatri saja tempat bersujudmu adalah masjid, tempat ketenanganmu adalah masjid,  mensucikan dirimu adalah masjid.
Betapa surga telah dijanjikan bagi siapapun yang terpatri dengannya. Diberikan surga sebab kemuliaan tempatnya. Wah indah sekali.
Bayangkan, setiap waktu, seseorang di dalam masjid selalu menyerukan untuk menuju kemenangan, menuju kebahagiaan. Hayya alas falaah, hayya alas falaah. Marilah menuju kemenangan. Marilah menuju kemenangan. Toh, seseorang di dalam masjid selalu mengumandangkannya. Tentu saja, untuk mengajak kita semua menuju kemenangan itu. Saat kita dekat dengan Allah, maka semuanya menjadi menang. Sebab Allah lah Zat yang tak ada tandingan. Betul kan?
Masjid bukan hanya mengajak menuju kemenangan, teman. Tapi mengajak pula menuju jannah-Nya. Siapa yang tak mau? Semua pun mau. Tak ada yang menolaknya. Oleh sebab itu, para pejuang selalu menjadikan masjid sebagai tempat pensucian diri, memohon ampunan, berdoa dan berbagai banyak hal kebaikan yang bisa dilakukan.
Masjid pun adalah tempat kebersamaan. Dimana saat waktu shalat masuk kita berbaris rapih membuat barisan. Membuat shaf. Kita bisa belajar arti disiplin didalamnya, belajar arti kebersamaan didalamnya, belajar untuk mengagungkan nama-Nya. Dan masih banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil di dalam masjid.
Kau tahu? Tempat itu amat bercahaya. Tempat itu tak hanya mencahayakan dirinya, tetapi juga mencahayakan semuanya. Mencahayakan sekitarnya. Semuanya bercahaya.
Saya jadi teringat ayat ini :
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. At-Taubah [9] : 18)
Semoga kita menjadi bagian darinya ya!
Wah, banyak sekali keutamaan masjid ya, gumamku.
Yups, betul

***

Perpisahan

Aku ragu ada dan tiadaku. Tapi cinta mengumumkan aku ada.

La haula wa la quwwata illa billah, kalimat itu terucap setiap kali mengingat tentang sebuah perpisahan. Bagaimana mungkin aku kuasa untuk menahan perpisahan. Kau tahu, setiap yang berawal pasti berakhir. Yang ada pasti tiada. Kecuali Allah saja.
Sebagaimana hidup pasti akan mati. Sebagai mata sebuah barang, pasti rusak. Yang jelas, perpisahan itu sangat dekat. Sebagaimana adanya pertemua pasti ada perpisahan. Nah, mengapa harus ada perpisahan? Padahal perpisahan itu sungguh menyiksa?
Simple saja.
Perpisahan membuktikan bahwa tak ada yang kekal kecuali Allah. Perpisahan membuktikan bahwa dunia ini fana. Perpisahan membuktikan bahwa setidaknya selalu ada harapan untuk berharap.
Misalnya, kita pernah kehilangan hal yang penting, lalu sedih. Jika itu terjadi padamu biarkan aku menceritakan sebuah kisah teman ketika ia kehilangan sebuah tas di dalam mobilnya. Apa yang ia katakan,
Sedang dipinjam,
Begitu ikhlasnya, sehingga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. seluruh kehilangannya diganti oleh Allah yang lebih baik.
Dear,  dalam perpisahan sulit sekali untuk ikhlas. Seolah-olah ingin terus tak berpisah. Baik dengan manusia, benda atau apapun yang kita miliki. Namun kita harus sadar bahwa perpisahan itu ada, mari belajar ikhlas. Tak perlu sedih ataupun kecewa, semua sudah menjadi kehendaknya.
Daun yang jauh dari tangkainya pun adalah bentuk perpisahan. Ia lepas dari tangkai lalu jatuh ke tanah; mengring, mengbusuk dan mati. Pohon yang gugur merupakan bentuk perpisahan, semula ia hidup berdaun, lalu perlahan gugur.
Kehilangan itu pasti ada. Jadi, jangan takut dan bersedih. Selama kita bisa ikhlas dengan semuanya. Bisa ikhlas atas takdir dari-Nya. Bisa ikhlas atas kehilangan, perpisahan dan apapun itu. InsyaAllah, keikhlasan akan membawa kita pada penerimaan. Sedangkan penerimaan melahirkan keridhoan dan keridhoan atas apapun takdir Allah maka berbuah surga-Nya. Semoga ...

***

Mau Menikah?

Siapa sih yang tidak ingin menyegerakan ibadah ini; menikah. Tentu saja menikah adalah ibadah yang paling rahasia kapan dan siapa yang k...